Senin, 28 Januari 2013

Contoh makalah dan bahan kuliah teknik Kimia

Beberapa contoh  makalah dan bahan kuliah teknik kimia dapat anda download --> Disini

Contoh SOP LAB Teknik Kimia

Berikut ini adalah salah satu contoh SOP Lab Teknik Kimia
Silahkan download --> Disini

Silabus, GBPP dan SAP Teknik Kimia

Berikut ini adalah silabus teknik kimia yang berhasiol dikumpulkan:

  1. Kurikulum program studi teknik kimia 2010 --> Klik Disini
  2. GBPP dan SAP Teknik Pemrosesan Polimer 1 --> Klik Disini
  3. GBPP dan SAP Teknik Penulisan Ilmiah --> Klik Disini
  4. Kurikulum Teknik Kimia UII --> Klik Disini
  5. Kurikulum Teknik Kimia --> Klik Disini

Jumat, 25 Januari 2013

ALGAE SPIRULINA SP. OIL EXTRACTION METHOD USING THE OSMOTIC AND PERCOLATION AND THE EFFECT ON EXTRACTABLE COMPONENTS

Alga dipandang sebagai bahan baku baru yang berpotensi menghasilkan minyak dengan jumlah yang cukup
besar. Selain itu, minyak alga tidak bersaing sebagai komoditi pangan. Spirulina Sp. atau ganggang hijau-biru
dipilih dikarenakan waktu panennya sangat singkat dan memiliki kandungan lipid cukup tinggi dibandingkan
dengan jenis alga yang lain. Selain itu karakteristik kondisi lingkungan tempat hidup Spirulina Sp. sesuai
dengan kondisi cuaca di Indonesia, yaitu pH cenderung basa, suhu 20-40oC. Metode osmotik dipilih mengingat Spirulina Sp. adalah makhluk hidup mikrokopis multi sel yang memiliki membran semipermiabel yang rentan terhadap perubahan tekanan osmotik. Asam klorida dipilih sebagai pelarut karena kedua jenis larutan diatas memiliki tekanan osmotik cukup tinggi sehingga dapat dengan mudah merusak membran semipermiabel yang ada. Metode perkolasi juga dipilih sebagai salah satu metode pembanding, dimana metode ini banyak digunakan sebagai metode rujukan untuk merecovery senyawa-senyawa atsiri bernilai tinggi dibidang farmasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi minyak alga dengan pelarut etanol (99,8%) (77,236%-berat)
memberi yield minyak lebih besar dibandingkan dengan pelarut HCl 5 M (71,218%-berat). Semakin banyak
volume pelarut yang digunakan, semakin lama waktu pengadukan, dan semakin tinggi molaritas larutan maka
semakin meningkat perolehan yield minyak. Kadar air pada fase hidroalkoholik dan waktu perendaman mempengaruhi perolehan yield minyak untuk pelarut etanol (99,8%). Kadar air 37,63% pada fase hidroalkoholik memberi yield minyak sebesar 76,584%-berat.Jenis pelarut yang digunakan turut mempengaruhi komposisi komponen-komponen terekstrak, khususnya FA, MG, GD, dan TG, dan komponen zat warna Spirulina Sp. yang terekstrak.
Keywords : Alga; Ekstraksi; Osmotik; Perkolasi; Spirulina Sp.; Minyak alga.

Silahkan download jurnal ini :  Disini

PENURUNAN KOSENTRASI SURFACTAN PADA LIMBAH DETERGEN DENGAN PROSES PHOTOKATALITIK SINAR UV

Fotokimia telah banyak digunakan sebagai alternative pengolahan air. Reaksi fotokimia adalah reaksi-reaksi kimia yang diinduksi oleh cahaya baik secara langsung maupun tidak langsung. Konversi cahaya menjadi energy kimia atau listrik merupakan prinsip dasar fotokimia. Untuk mempercepat reaksi konversi diperlukan adanya katalis yang disebut fotokatalis. Katalis akan atif apabila memperoleh energy cahaya. Dalam proses fotokimia akan terbentuk hidroksil radikal yang akan menurunkan senyawa organic di dalam air limbah seperti surfactant dalam limbah detergen layanan cuci (laundry) yang sulit didegradasi. Dalam proses penurunan kosentrasi surfactant digunakan katalis Titanium Dioksida( TiO2) dengan sumber cahaya yng digunakan adalah lampu UV yang divariasi yaitu 15 watt, 30 watt dan 36 watt .Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan penurunan kosentrasi surfactant dalam limbah detergen laundry, factor-factor yang ditinjau daya lampu, lama penyinaran, dan berat TiO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemapuan penurunan kosentrasi yang terbaik menggunakan TiO2 sebanyak 2,2 gr dengan hasil 95,6 % pada waktu 2,5 jam dan daya lampu 36 watt.
Kata kunci : Fotokimia, fotokatalitik, surfactant

Silahkan download jurnal ini : Disini

KONVERSI GLISEROL DENGAN GELOMBANG MIKRO SECARA BATCH

Saat ini dunia mengalami krisis energi yang berasal dari sumber tak terbaharukan, tidak terkecuali Indonesia. Sehingga perlu suatu upaya untuk mencari sumber energi alternatif dari sumber yang terbaharukan. Salah satu sumber energi alternatif yaitu biodiesel yang dapat diperoleh dari sumber nabati yaitu kelapa sawit, kedelai, jarak, nyamplung ataupun tumbuhan yang lainnya. Peningkatan produksi biodiesel diikuti dengan meningkatnya produk samping biodiesel yaitu gliserol. Penelitian ini bertujuan mempelajari konversi gliserol secara batch menggunakan gelombang mikro yaitu dengan melihat pengaruh daya dan waktu pemanasan microwave terhadap yield produk cair yang dihasilkan. Larutan gliserol dengan rasio massa gliserol terhadap air 1:9 dimasukkan pada reaktor yang terbuat dari gelas. Reaktor ditempatkan pada microwave oven dengan power dan waktu pemanasan tertentu. Produk liquida yang dihasilkan dianalisa dengan GC dan GC-MS. Produk konversi gliserol adalah allil alkohol, metanol, serta beberapa produk yang tidak teridentifikasi. Semakin besar daya microwave semakin besar yield etanol yang didapatkan, demikian pula semakin lama waktu pemanasan microwave semakin besar yield etanol yang diperoleh. Yield etanol yang paling besar pada daya 600 W, selama 15 menit yaitu sebesar 6,764%.
Kata Kunci: Degradasi Gliserol, Gelombang mikro

Silahkan download jurnal ini : Disini

OPTIMASI PEMANFAATAN ENERGI AMPAS DI PABRIK GULA

Availibility of world fossil energi will continue scarce and progressively costly. The situation will affect to sugar production cost, specially at SF which still insuffiency of bagasse and burn oil. Insuffiency of bagasse in SF righteously can overcome because sugar cane have enough bagasse content for boiler fuel, with balance installation, efficient equipments, amount and quality of sugar cane milled which is adequate, hence in SF can be obtained excess of bagasse or energy which is useful for raw material of industry.
Key words : Energy crisis, sugar factory (SF), cane bagasse, steam generation, steam use, energy efficiency.

Silahkan download jurnal ini : Disini

PRODUKSI BIOETHANOL DARI RUMPUT GAJAH SECARA KIMIA

Availability of bulrush can be obtained by continue and abundance, representing one the less exploited crop.
Bulrush only used as livestock food, sometimes bulrush also considered to be intruder crop. But bulrush have
cellulose rate, glucose, extract able to be used as one the ethanol producer materials. Obtained Ethanol rate
from study produce bio ethanol from bulrush between 23-28 %, to increase purity of ethanol rate conducted by dissociation use batch distillation. Research produces bio ethanol from bulrush chemically to look for bio
ethanol alternative raw material and study sour hydrolysis process and fermentation. In research produce bio
ethanol from bulrush chemically to process hydrolysis at condition remains to: temperature 30oC, water 7 liters, hydrolysis time 1hour and condition change: bulrush weight 50, 100, 150, 200, 250, 300 (gram), HCL
condensation volume 10, 20, 30, 40, 50(ml). Is then continued by fermentation process at condition remain to: temperature 30oC, pH 4.5; fermentation volume 500 ml and condition change: fermentation time 4, 5, 6, 7, 8 (day), starter 8 %, 10 %, 12 %. From research produces bio ethanol from bulrush chemically obtained [by] result, [at] best glucose rate hydrolysis process 26.29 %, bulrush weight 200 gram. At best condition ferment process use saccharomyces cerevisiae starter 10 % during 6 day, yielding ethanol equal to 27.71 % and glucose rate is rest of 8.09 %. To obtain get purity ethanol product to process separation of continuation with batch distillation, after conducted separation continue to be obtained ethanol rate (90-95) %. From result is obtained that is ethanol rate (90-95) %, bulrush can be used as alternative raw material making of bio ethanol. But for the standard of bio ethanol that is ethanol rate above 98 %, so that require to furthermore process.
Keyword: bio ethanol, fermentation, hydrolysis, purification, bulrush

Silahkan download jurnal ini : Disini

PEMBUATAN ETANOL DARI BUAH MENGKUDU

Mengkudu merupakan tanaman serba guna, banyak jenis produk yang bisa dikembangkan dari akar, batang, daun, maupun buahnya.Pada buah mengkudu mempunyai kandungan karbohidrat sebanyak 51,67 gr. Dengan adanya kandungan karbohidrat tersebut memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi etanol. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kondisi proses yang terbaik pada pembuatan etanol dengan bahan baku buah mengkudu.
Etanol yang dihasilkan diperoleh dengan memanaskan larutan buah mengkudu dengan HCl 0,4 N dalam labu leher tiga sebagai proses hidrolisis, sehingga didapat kadar gula sebesar 8,23%. Selanjutnya, dapat dibuat media fermentasi dari larutan gula hasil hidrolisis yang ditambahkan volume starter pada rentang : 4- 12%. Kemudian difermentasi sesuai dengan variasi waktu antara : 24 - 72 jam. Larutan hasil fermentasi tersebut dipisahkan dengan cara distilasi, suhu dijaga 80ÂșC. Hasil etanol yang terbesar diperoleh pada waktu fermentasi 60 jam, penambahan volume starter 10% dengan kadar etanol = 6,24 %.
Kata Kunci : Fermentasi ,Hidrolisis, mengkudu , Saccharomyces cerevisiae, Etanol .

Silahkan download jurnal ini : Disini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes